Nilai Sosial: Pengertian, Tolak Ukur, Ciri-Ciri, Fungsi, Jenis, dan Contohnya

Nilai-Sosial-Pengertian-Tolak-Ukur-Ciri-Ciri-Fungsi-Jenis-dan-Contohnya
Ilustrasi
Sijenius.com – Setiap orang memiliki kriteria yang berbeda-beda mengenai baik buruknya sesuatu. Dalam sosiologi pandangan mengenai baik buruknya sesuatu dinamakan nilai sosial. Menurut Koentjaraningrat, nilai sosial merupakan konsep-konsep yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap bernilai dalam hidup. Oleh karena itu, suatu nilai berfungsi sebagai pedoman perilaku dalam masyarakat. Seperti kerja sama, persaudaraan, rasa kekeluargaan, ketaatan, kedisiplinan, kebersihan, ketertiban, dan lain-lain. Bagi masyarakat nilai sangatlah penting, sehingga nilai diaktualisasikan dalam bentuk norma-norma sosial yang dilengkapi dengan sanksi-sanksi bagi pelanggarnya. Lantas, apa sebenarnya nilai sosial itu?, nah penasaran kan, langsung saja kita simak penjelasan berikut ini.

Pengertian Nilai Sosial

Dalam kehidupan sehari-hari pastinya kalian sering melihat polisi lalu lintas yang mengatur lalu lintas di jalan raya. Apa kaitannya tugas polisi lalu lintas tersebut dengan nilai sosial?. Dalam hal ini, nilai bukanlah angka yang menunjukkan ukuran tertentu mengenai sesuatu, misalnya nilai 1,2, atau 3 dalam matematika. Namun, dalam ilmu sosiologi nilai merupakan sesuatu yang dianggap baik dan diharapkan oleh masyarakat. Kesopanan, ketaatan, keramahan, kecantikan jiwa, kebersihan, dan keindahan merupakan beberapa contoh nilai sosial dalam kacamata sosiologi. Dengan kata lain, nilai sosial memiliki pengertian sebagai ukuran-ukuran, patokan-patokan, anggapan-anggapan, keyakinan-keyakinan, yang hidup dan berkembang dalam masyarakat serta dianut oleh banyak orang dalam lingkungan masyarakat mengenai apa yang benar, pantas, luhur, dan baik untuk dilakukan.
Setiap masyarakat tentunya mempunyai tata nilai yang berbeda-beda. Nilai-nilai sosial adalah aktualisasi dari kehendak masyarakat mengenai segala sesuatu yang mereka anggap baik dan benar. Menurut Soeleman, nilai-nilai juga memberikan perasaan identitas masyarakat dan menentukan seperangkat tujuan yang hendak dicapai. Oleh karenanya, nilai sosial secara umum dapat dinyatakan sebagai keyakinan relative kepada baik dan buruk, yang benar dan salah, kepada apa yang seharusnya ada dan apa yang seharusnya tidak ada. Kemudian pengertian tersebut dipertegas kembali oleh Polak. Ia mengemukakan bahwa nilai dimaksudkan sebagai ukuran-ukuran, patokan-patokan, anggapan-anggapan, keyakinan-keyakinan tertentu, mengenai apa yang benar, pantas, luhur, dan baik untuk dikerjakan, dilaksanakan, atau diperhatikan. Selain pengertian diatas, terdapat pula beberapa pengertian menurut para ahli berikut ini:
  1. Charler F. Andrian: ia mengartikan nilai sosial sebagai kondep-konsep yang sangat umum mengenai sesuatu yang ingin dicapai serta memberikan arahan tindakan-tindakan yang harus di ambil.
  2. Green: menurutnya, nilai sosial sebagai kesadaran yang berlangsung secara relative dan disertai emosi terhadap objek, ide, dan orang perorangan.
  3. Young: nilai sosial merupakan asumsi-asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan apa yang penting.
  4. Woods: nilai sosial merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber-Sumber Nilai Sosial

Setelah memahami beberapa pengertian di atas, pernahkah kalian merenungkan mengapai nilai ada dalam masyarakat?. Atau dari manakah asal nilai itu?, apakah secara tiba-tiba muncul dalam masyarakat kemudian disepakati bersama sebagai nilai?, Atau adakah langkah-langkah yang sistematis dan prosedural serta membutuhkan waktu yang lama untuk menempatkan sesuatu menjadi sebuah nilai dalam masyarakat. Pada intinya, nilai sosial dalam masyarakat bersumber pada tiga hal yaitu:

1. Nilai yang Bersumber dari Tuhan

Sumber nilai sosial berasal dari Tuhan biaanya diketahui melalui ajaran agama yang ditulis dalam kitab suci. Dalam ajaran agama, pastinya terdapat nilai yang dapat memberikan pedoman dalam bersikan dan bertingkah laku terhadap sesamanya. Sebagai contoh adanya nilai kasih sayang, ketaatan, kejujuran, hidup sederhana, dan lain-lain. Nilai yang bersumber dari Tuhan sering disebut dengan nilai theonom.

2. Nilai yang Bersumber dari Masyarakat

Masyarakat menyepakati sesuatu hal yang dianggap baik dan luhur, kemudian menjadikannya sebagai suatu pedoman dalam bertingkah laku. Sebagai contohnya, kesopanan, dan kesantunan terhadap orang tua. Nilai yang berasal dari hasil kesepakatan banyak orang disebut heteronom.

3. Nilai yang Bersumber dari Individu

Pada dasarnya, setiap individu memiliki suatu hal yang baik, luhur, dan penting. Sebagai contohnya, kegigihan dalam bekerja yang dimiliki seseorang. Seseorang beranggapan bahwa kerja keras adalah sesuatu yang penting untuk mencapai suatu kesuksesan/keberhasilan. Lambat laun nilai yang dimiliki oleh seseorang tersebut  diikuti oleh orang lain yang pada akhirnya akan menjadikan nilai tersebut milik bersama. Dalam kenyataannya, nilai sosial yang berasal dari individu sering ditularkan dengan cara memberi contoh perilaku yang sesuai dengan nilai yang dimaksud. Nilai yang berasal dari individu disebut nilai otonom.

Tolak Ukur Nilai Sosial

Adanya perbedaan nilai didalam masyarakat disebabkan karena setiap masyarakat mempunyai tolak ukur nilai yang berbeda-beda pula. Selain itu, perbedaan cara pandang masyarakat terhadap nilai mendorong munculnya perbedaan nilai. Misalnya, suatu masyarakat menjunjung tinggi anggapan tentang waktu adalah uang dan kerja keras. Sedangkan di masyarakat lain menganggap kedua hal tersebut tidak penting atau dianggap sebagai gejala materialisme.
Contoh lain adalah kebiasaan dan perilaku seseorang menjaga kebersihan tubuhnya dengan mandi setiap hari. Tindakan mereka didasarkan pada nilai kebersihan dan nilai kesehatan. Masyarakat menganggap bahwa kebersihan itu baik. Berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah miskin air. Mandi bukanlah hal yang harus dilakukan. Menurut mereka menjaga kebersihan tidak harus dengan mandi.
Dari dua peristiwa diatas, terlihat adanya perbedaan nilai antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Selain itu, tatanan nilai dalam suatu masyarakat dapat mengalami pergeseran atau perubahan. Contohnya dalam keluarga tradisional beranggapan bahwa seorang istri adalah melayani suami. Dalam keluarga tradisional, tugas seorang perempuan hanya mengurus keluarga dan melayani suami. Kebebasan perempuan untuk mengembangkan potensi serta berkarir menjadi terbatas. Namun, seiring dengan perkembangan zaman serta meningkatnya kebutuhan hidup, keberadaan perempuan mulai diakui. Saat ini peran perempuan tidak terbatas pada ibu rumah tangga. Namun, pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki tidak jarang pula dilakukan oleh kaum hawa ini.
Lantas, apa yang menjadi tolak ukur suatu nilai dalam masyarakat?, suatu nilai dapat tetap dipertahankan apabila nilai tersebut mempunyai daya guna fungsional, artinya mempunyai kebermanfaatan bagi kehidupan masyarakat itu sendiri, seperti pada contoh di atas. Dengan kata lain, tolak ukur nilai sosial ditentukan dari kegunaan nilai tersebut. Jika berguna akan dipertahankan, dan jika tidak akan terbuang seiring dengan berjalannya waktu.

Ciri-Ciri Nilai Sosial

Segala sesuatu pastinya mempunyai penanda khas atau ciri-ciri tertentu. Karena dengan ciri-ciri itulah sesuatu dapat diidentifikasi. Begitupula dengan nilai sosial, tidak semua hal atau sesuatu yang baik di mata masyarakat dapat dianggap sebagai nilai sosial. Menurut Abdulsyani (2002) tanda-tanda atau ciri-ciri nilai sosial antara lain:
  1. Nilai merupakan hasil interaksi antar anggota masyarakat, nilai tercipta secara sosial bukan secara biologis atau bawaan sejak lahir.
  2. Nilai sosial ditularkan di antara anggota-anggota masyarakat melalui pergaulan.
  3. Nilai terbentuk melalui proses belajar yang panjang melalui sosialisasi.
  4. Nilai sebagai alat pemuas kebutuhan sosial, artinya nilai berfungsi sebagai sarana untuk mencapai cita-cita bersama.
  5. Nilai berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dengan yang lain.
  6. Masing-masing nilai mempunyai efek yang berbeda terhadap orang-perorangan dan masyarakat secara keseluruhan.
  7. Nilai dapat mempengaruhi perkembangan pribadi dalam masyarakat baik itu perkembangan positif maupun negatif.
  8. Nilai merupakan hasil seleksi dari berbagai macam aspek kehidupan di dalam masyarakat.

Fungsi Nilai Sosial

Secara garis besar, kita tahu bahwa nilai sosial memiliki tiga fungsi yaitu:

1. Petunjuk Arah dan pemersatu

Apakah maksud nilai sosial sebagai petunjuk arah?, cara berfikir dan bertindak anggota masyarakat umunya diarahkan oleh nilai-nilai sosial yang berlaku. Pendatang baru pun secara moral diwajibkan mempelajari aturan-aturan sosiobudaya masyarakat yang didatangi, mana yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Dengan demikian, dia dapat menyesuaikan diri dengan norma, pola pikir, dan tingkah laku yang diinginkan, serta menjauhi hal-hal yang tidak diiginkan masyarakat.
Selain itu, nilai sosial juga memiliki fungsi sebagai pemersatu yang dapat mengumpulkan orang banyak dalam kesatuan atau kelompok tertentu. Dengan kata lain, nilai sosial menciptakan dan meningkatkan solidaritas antarmanusia. Contohnya nilai ekonomi mendorong manusia mendirikan perusahaan-perusahaan yang dapat menyerap banyak tenaga kerja.

2. Banteng Perlindungan

Nilai sosial merupakan tempat perlindungan bagi penganutnya. Nilai ini menjadi daya perlindungan yang begitu besar, sehingga para penganutnya bersedia berjuang mati-matian untuk mempertahankan nilai-nilai itu. Misalnya perjungan bangsa Indonesia mempertahankan nilai-nilai Pancasila dari nilai-nilai budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya kita, seperti budaya minum-minuman kerasa, diskotik, penyalahgunaan narkotika, dan lain-lain.

3. Pendorong 

Nilai juga berfungsi sebagai alat pendorong (motivator) dan sekaligus menuntun manusia untuk berbuat baik. Dikarenakan adanya nilai sosial yang luhur, maka muncullah harapan baik dalam diri manusia. Berkat adanya nilai-nilai sosial yang dijunjung tinggi dan dijadikan sebagai cita-cita manusia yang berbudi luhur dan bangsa yang beradap itulah manusia menjadi manusia yang sungguh-sungguh beradab. Contohnya nilai keadilan, nilai kedisiplinan, nilai kejujuran, dan lainnya.

Jenis-Jenis Nilai Sosial

Setiap individu memiliki sesuatu hal yang dianggap baik dan luhur. Oleh karenanya, perkembangan nilai sosial dalam masyarakat semakin banyak. Banyaknya nilai-nilai sosial yang digunakan sebagai pedoman dalam bertingkah laku, mendorong Prof. Notonegore mengklasifikasikan nilai-nilai tersebut. Menurut Prof, nilai sosial dikelompokkan menjadi tuga macam yaitu:
  1. Nilai material, yaitu nilai yang muncul karena materi tersebut. Contohnya batu kali, secara materi batu kali mempunyai nilai tertentu. Hal ini disebabkan batu kali dapat digunakan untuk membangun sebuah rumah tempat tinggal. Nilai yang terkandung dalam batu kali ini dinamakan nilai material.
  2. Nilai vital, yaitu nilai yang muncul karena daya kegunaannya. Contohnya payung, payung mempunyai kegunaan untuk menaungi tubuh dari air hujan. Apabila payung ini bocor maka nilai kegunaan payung menjadi berkurang. Nilai payung oleh kegunaannya dinamakan nilai vital.
  3. Nilai kerohanian, yaitu nilai yang bersifat abstrak berguna bagi rohani manusia. Menurut Prof, nilai spiritual meliputi nilai kebenaran (kenyataan) yang bersumber dari akal manusia, nilai kebaikan yang bersumber pada unsur kehendak dan nilai religius yang merupakan nilai ketuhanan yang bersumber pada kepercayaan/keyakinan manusia.
Selain itu, Clyde Kluckhonn menyatakan bahwasanya jika dilihat dari segi orientasinya terdapat lima nilai mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu: nilai mengenai hakikat hidup, nilai mengenai hakikat karya, nilai mengenai hakikat hubungan manusia dengan sesame, nilai mengenai hubungan manusia dengan alam, dan nilai mengenai hakikat kedudukan manusia dalam ruang waktu. Dan berdasarkan fungsinya, nilai dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk yaitu:
  1. Nilai integratif, yaitu nilai-nilai dimana dengan memberikan tuntutan atau mengarahkan seseorang atau kelompok dalam usaha untuk mencapai cita-cita bersama. Sifat nilai integratif dalam universal, misalnya sopan santun, tenggang rasa, kepedulian, dan lain-lain.
  2. Nilai disintegratif, yaitu nilai-nilai sosial yang berlaku hanya untuk sekelompok orang di  wilayah tertentu. Jadi, sifat disintegratif adalah lokal dan sangat etnosentris. Oleh karena itu, jika diterapkan pada lingkungan sosial budaya lain akan mengakibatkan konflik sosial, karena terjadi benturan-benturan nilai yang berbeda. Contohnya dalam hal memberi sesuatu kepada seseorang. Orang Prancis menerima atau memberi dengan tangan kiri adalah sesuatu yang wajar, namun bagi orang Indonesia memberi dengan tangan kiri diartikan sebagai penghinaan.
Demikianlah informasi singkat mengenai nilai sosial. Semoga artikel diatas dapat membantu sobat dalam memahami dan mempelajari apa maksud dari nilai sosial. Cukup sekian semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.

Tinggalkan komentar