Pengertian Etos Kerja, Ciri-Ciri, Dan Faktor yang Mempengaruhinya

Sijenius.com – Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, adanya persaingan kerja yang semakin meningkat memaksa setiap orang untuk menguasai keahlian dan kemampuan tertentu. Untuk dapat menjawab tantangan ini diperlukan adanya dedikasi, kerja keras, dan kejujuran dalam bekerja.

Menurut Anoraga (1992) manusia yang berhasil harus memiliki pandangan dan sikap yang menghargai kerja sebagai sesuatu yang luhur untuk eksistensi manusia. Suatu pandangan dan sikap yang demikian dikenal dengan istilah etos kerja

Pengertian Etos Kerja , Ciri-Ciri, Dan Faktor yang Mempengaruhinya
Etos Kerja

Dikalangan dewasa, etos kerja menjadi topik yang kembali hangat. Sudah sekian lama Indonesia selalu berkutat dengan masalah korupsi, jam karet, asal kerja, semrawut, dan predikat negatif lainnya. Berbeda dengan kondisi di negara Jepang, yang menjadikan kerja sebagai sesuatu hal yang sangat mulia, dan kualitas kerja merupakan nilai-nilai penting yang didasari spiritualitas agama. Mau tau lebih jelasnya?, mari simak penjelasan berikut ini.

Pengertian Etos Kerja 

Secara etimologis, istilah etos berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti karakter, watak kesusilaan, kebiasaan atau tujuan moral seseorang serta pandangan tentang dunia mereka, yakni gambaran, cara bertindak ataupun gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan.

Dari kata etos inilah maka kemudian dikenal kata etika, etiket yang hampir mendekati pada pengertian nilai-nilai yang berkaitan dengan moral (baik buruk), sehingga dalam etos tersebut terkandung semangat atau gairah yang kuat untuk melakukan sesuatu secara optimal, lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin.

Seorang Aristoteles menggambarkan etos sebagai salah satu dari tiga mode persuasi selain logos dan pathos dan mengartikannya sebagai ”kompetisi moral”. Akan tetapi Aristoteles berusaha memperluas makna dari istilah ini hingga “keahlian” dan “pengetahuan” tercakup didalamnya. Ia menyatakan bahwa etos dapat diperoleh hanya dengan apa yang dikatakan seseorang pembicara, tidak dengan apa yang dipikirkan orang tentang sifatnya sebelum ia mulai berbicara. Disini terlihat bahwasanya etos dikenali berdasarkan sifat-sifat yang dapat dideteksi oleh indera. 

Pengertian Etos Kerja Menurut Para Ahli

 

1. Anoraga (1992)

Menurut Anoraga (1992), etos kerja merupakan pandangan dan sikap suatu bangsa atau umat terhadap kerja. 

2. Tasmara (2002)

Menurut Tasmara (2002), menegaskan bahwa etos kerja adalah totalitas kepribadian, serta cara mengekspresikan, memandang, meyakini, dan cara memberikan makna adanya sesuatu yang mendorong dirinya untuk bertindak dan bekerja secara optimal. 

3. Sanada dan Tebba (2003)

Menurut Sanada dan Tebba (2003), mengatakan bahwa etos kerja adalah semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang sejauh di dalamnya terdapat tekanan moral. 

4. Sinamo (2005)

Menurut Sinamo (2005), mendefisikan etos kerja merupakan seperangkat perilaku kerja positif, yang berakar pada kesadaran, keyakinan fundamental, dan komitmen total pada paradigma kerja yang integral. 

5. Siagin (2007)

Menurut Siagin (2007), menambahkan bahwa etos kerja ilah norma-norma yang bersifat mengikat dan ditetapkan secara eksplisit serta praktek-praktek yang diterima dan diakui sebagai kebiasaan yang wajar untuk dipertahankan dan diterapkan dalam kehidupan para anggota suatu organisasi. 

6. Chong dan Tai (2007)

Menurut Chong dan Tai (2007), etos kerja adalah mengenai ide yang menekankan individualisme atau independensi dan pengaruh positif bekerja terhadap individu. 

7. Yousef (2007)

Menurut Yousef (2007), menyatakan bahwa etos kerja merupakan konsep yang memandang pengabdian atau dedikasi terhadap pekerjaan sebagai nilai yang berharga. 

8. Mulyadi (2008)

Menurut Mulyadi (2008), bahwa etos kerja merupakan jiwa dan semangat kerja yang dipengaruhi oleh cara pandang terhadap pekerjaan. 

Ciri-Ciri Etos Kerja 

Etos kerja berhubungan dengan perilaku kerja, setiap orang memiliki perasaan atau sikap terhadap kerja yang dilakukan dan sikap yang di miliki oleh tiap orang akan berbeda-beda, karena adanya ketidaksamaan tersebut mengakibatkan pencapaian hasil yang berbeda. Menurut Puspitasari (2009), etos kerja memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 

1. Disiplin 

Menurut Tarmuji (1996) disiplin diri dapat diartikan dengan pemanfaatan diri sesuai dengan ketepatan waktu untuk mencapai cita-cita, karena kedisiplinan sangat penting untuk menunjang tercapainya tujuan. Sikap disiplin dapat dilihat dari ketepatan waktu dalam bekerja, kerapian dalam menggunakan alat, bekerja dengan baik, dan sesuai dengan prosedur kerja. 

2. Kejujuran 

Sastrohadiwiryo (2003) mengatakan kejujuran adalah ketulusan hati seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan serta kemampuan untuk tidak menyalahgunakan wewenang yang telah diberikan kepadanya. Jujur merupakan perilaku yang diikuti oleh sikap tanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya tersebut.

Jujur pada diri sendiri, maka kesungguha yang amat sangat untuk meningkatkan misi dan bentuk keberadaannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain. Sikap jujur dapat dilihat dari sikap seorang tenaga kerja dalam mengakui adanya kesalahan dalam pekerjaannya, misalnya ketika melakukan kelalaian atau tidak menyelesaikan tugas seperti semestinya. 

3. Percaya Diri 

Percaya diri memiliki pengertian tindakan atau sikap dan keyakinan seseorang untuk memulai melakukan dan menyelesaikan sesuatu pekerjaan yang dihadapi (Tarmuji, 1996). Percaya diri menghasilkan kekuatan, keberanian, dan tegas dalam bersikap. Orang yang percaya diri memiliki kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Sikap percaya diri dapat ditunjukan melalui keyakinan karyawan untuk memulai, melakukan dan menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang dihadapi dengan ketenangan, ketekunan, kegairahan, dan kemantapan dalam melakukan pekerjaan keyakinan akan kemampuan untuk mencapai keberhasilan. 

4. Tanggung Jawab 

Tanggung jawab adalah fungsi atau aktifitas yang diserahkan kepada tenaga kerja untuk diselesaikan dalam jangka waktu tertentu (Sastrohadiwiryo, 2003). Tanggung jawab adalah sikap dan tindakan seseorang dalam menerima sesuatu sebagai amanah.

Sikap tanggung jawab dapat dilihat dalam semangat dan memiliki kesadaran akan kewajiban menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik sehingga akan menghasilkan pekerjaan yang optimal. 

5. Mandiri 

Mandiri yaitu jiwa yang merdeka yang mampu mengeluarkan kreatifitas dan inovasinya sehingga mampu memperoleh hasil dan usaha atas karsa dan karya yang dihasilkan dari dirinya sendiri. Sikap ini dapat dilihat saat karyawan bekerja, yaitu kemampuan mereka dalam menyelesaikan tugas dan menyelesaikan masalah. 

6. Jalinan Komunikasi 

Komunikasi adalah suatu proses penyampain informasi (pesan, ide, gagasan) daari suatu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi terhadap keduanya. Pada umumnya komunikasi dilakukan dengan kata-kata yang dapat dimengerti kedua belah pihak. Komunikasi juga dapat dilakukan dengan menggunakan gerak badan misalnya dengan cara tersenyum, mengelengkan kepala, mengangkat bahu dan lain-lain.

Dalam bekerja diperlukan adanya komunikasi baik komunikasi dengan rekan kerja maupun pimpinan, dengan adanya komunikasi yang baik akan menambah semangat dalam bekerja. Menjalin komunikasi dapat dilihat dari hubungan karyawan satu dengan karyawan yang lain serta karyawan dengan pimpinan, dengan adanya komunikasi yang baik makan akan tercipta keharmonisan dalam bekerja sehingga akan menambah semangat kerja. 

Aspek-Aspek Etos Kerja 

Tasmara (2002) manyatakan bahwasanya etos kerja terbagi kedalam 4 aspek, berikut ini keempat aspek tersebut: 

1. Menghargai Waktu 

Memiliki etos kerja yang tinggi ditandai dengan sikap menghargai waktu. Dalam hal ini waktu dipandang sebagai suatu hal yang sangat bermakna dan berkaitan dengan produktivitasnya. 

2. Tangguh dan Pantang Menyerah 

Individu yang mempunyai etos kerja yang tinggi cenderung suka bekerja keras, ulet dan pantang menyerah dalam menghadapi setiap tantangan maupun ketika berada dalam sebuah tekanan yang berat.
 

3. Keinginan Untuk Mandiri 

Etos kerja ditandai dengan upaya individu untuk berusaha mengaktualisasikan seluruh kemampuannya dan berusaha memperoleh hasil dari usahanya sendiri tanpa menunjukkan ketergantungan pada pihak lain. 

4. Penyesuaian Diri 

Etos kerja juga ditandai dengan kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan kerja, rekan kerja maupun dengan atasan ataupun bawahan, tanpa menimbulkan permasalahan individual maupun masalah bagi lingkungannya. 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Etos Kerja 

Menurut Anoraga (2001) etos kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 

1. Agama 

Pada dasarnya agama adalah suatu sistem nilai yang dapat mempengaruhi atau menentukan pola hidup para penganutnya. Cara berfikir, bersikap, dan bertindak seseorang tentu akan diwarnai oleh ajaran agama yang dianut jika seseorang sungguh-sungguh dalam kehidupan beragama.

Etos kerja yang rendah secara agama tidak langsung dipengaruhi oleh rendahnya kualitas keagamaan dan orientasi nilai budaya yang konservatif turut menambah kokohnya tingkat etos kerja yang rendah. 

2. Budaya 

Sikap mental, disiplin, tekad, dan semangat kerja masyarakat juga disebut sebagai etos budaya dan secara operasional etos budaya tersebut juga disebut sebagai etos kerja. Kualitas dari etos kerja ini ditentukan oleh sistem orientasi nilai budaya yang dimiliki masyarakat yang bersangkutan.

Masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya maju pastinya akan memiliki etos kerja yang tinggi. Sedangkan masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya konservatif akan memiliki etos kerja yang rendah, bahkan tidak menutup kemungkinan mereka tidak memiliki etos kerja sama sekali. 

3. Sosial Politik 

Tinggi rendahnya etos kerja suatu masyarakat dipengaruhi oleh ada atau tidaknya struktur politik yang mendorong masyarakat untuk bekerja keras dan dapat menikmati hasil kerja keras dengan penuh.

Etos kerja harus dimulai dengan adanya kesadaran akan pentingnya arti tanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan negara. Dorongan untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan hanya mungkin timbul jika masyarakat secara keseluruhan memiliki orientasi kehidupan yang terpacu kepada masa depan yang lebih baik. 

4. Kondisi Lingkungan 

Etos kerja dapat muncul dikarenakan faktor kondisi geografis. Lingkungan alam yang mendukung akan mempengaruhi manusia yang berada didalamnya melakukan usaha untuk dapat mengelola dan mengambil manfaat, bahkan dapat mengundang para pendatang untuk turut mencari penghidupan di lingkungan tersebut. 

5. Pendidikan 

Etos kerja yang baik tentunya tidak dapat dipisahkan dengan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan sumber daya manusia akan membuat seseorang mempunyai etos kerja baik. Meningkatnya kualitas penduduk dapat tercapai apabila terdapat pendidikan yang merata, bermutu, dan disertai dengan peningkatan dan perluasan pendidikan, keahlian, dan keterampilan sehingga semakin meningkat pula aktivitas dan produktivitas masyarakat sebagai pelaku ekonomi. 

6. Struktur Ekonomi 

Tinggi rendahnya etos kerja yang dimiliki oleh suatu masyarakat dipengaruhi oleh ada atau tidaknya struktur ekonomi yang mampu memberikan semangat yang sungguh-sungguh bagi anggota masyarakat untuk bekerja keras dan menikmati hasil dari kerja keras mereka dengan penuh. 

7. Motivasi Intrinsik Individu 

Individu yang memiliki etos kerja yang baik memiliki motivasi yang tinggi. Etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap yang didasari atas nilai-nilai yang diyakini oleh seseorang. Keyakinan inilah yang menjadi suatu motivasi kerja. Maka hal ini juga dipengaruhi oleh motivasi seseorang yang bukan bersumber dari luar dirinya, tetapi yang tertanam dalam diri sendiri yang sering disebut dengan motivasi intrinsik.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya memiliki etos kerja yang baik akan menjadikan kita menjadi pribadi yang disiplin, tekun, serta totalitas dalam melakukan hal apapun. Ada banyak hal yang mempengaruhi sebuah etos kerja seperti yang telah kita bahas di atas, sehingga apabila hal tersebut dapat dimaksimalkan dengan baik, maka akan memberikan etos kerja yang baik pula. Semoga bermanfaat dan menjadikan kita lebih totalitas dalam bekerja.

Tinggalkan komentar